Trump Ancam Deklarasikan Selat Hormuz sebagai Wilayah AS, Harga Minyak Dunia Berpotensi Makin Tak Terkendali
TOKYO — Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang memanaskan situasi geopolitik global. Dalam pidatonya, ia mengeklaim kemenangan militer atas Iran sudah di depan mata dan Selat Hormuz akan diambil alih sebagai bagian dari teritori Amerika Serikat.
"Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang saat ini sedang dikalahkan dengan sangat parah, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump di hadapan taruna akademi kepolisian, Jumat.
Blokade Laut dan Kenaikan Harga BBM
Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berjalan kuat. Ia menyebut blokade tersebut sebagai "tembok baja" yang tidak bisa ditembus dan menjadi kunci kendali atas jalur pelayaran tersibuk di dunia itu.
Namun, di balik retorika tersebut, warga AS sendiri tengah merasakan dampak langsung konflik. Trump secara eksplisit meminta para pendukungnya untuk bersabar menerima kenaikan harga bensin. Ia beralasan bahwa pengorbanan ini adalah harga yang harus dibayar untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
"Kalian hanya perlu mengingat bahwa apa yang kami lakukan ini merupakan jasa besar bagi dunia," ujarnya mencoba meyakinkan publik.
Iran Menolak Buka Selat, Ekonomi Global Tertekan
Di sisi lain, Iran menolak mentah-mentah wacana tersebut. Teheran menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan pengelolaannya. Mereka berulang kali menyatakan tidak akan membuka kembali selat yang membentang di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu selama blokade AS belum dicabut.
Penutupan efektif selat tersebut sejak akhir Februari lalu telah memicu lonjakan harga minyak dan berbagai komoditas lainnya di seluruh dunia. Jalur air sempit ini memang menjadi lintasan utama bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global, sehingga gangguan sekecil apa pun langsung berdampak pada rantai pasok internasional.
Tekanan Domestik Menghadang Trump
Di tengah perang yang tak kunjung usai, Trump justru menghadapi tekanan besar dari dalam negerinya. Perang yang tidak populer di mata publik AS ini mulai menggerus dukungan politiknya. Pernyataan kontroversial soal aneksasi Selat Hormuz pun dinilai sejumlah pengamat sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kegagalan kebijakan luar negerinya yang berlarut-larut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Indonesia mengenai potensi dampak eskalasi konflik ini terhadap harga energi nasional. Namun, gejolak di Timur Tengah dipastikan akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga minyak di pasar domestik dalam beberapa pekan ke depan.