Breaking

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.798 per Dolar AS, Pasar Menanti Risalah FOMC dan Sikap BI

RE
Selasa, 18 Agustus 2026
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.798 per Dolar AS, Pasar Menanti Risalah FOMC dan Sikap BI
Rupiah ditutup menguat ke level Rp 17.798 per dolar AS di pasar spot pada Senin (17/8).

ACEH — Penguatan rupiah pada awal pekan ini melanjutkan tren positif dari akhir pekan lalu. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.798 per dolar AS pada Senin (17/8). Posisi ini membaik dibandingkan level penutupan pekan sebelumnya.

Bank Indonesia mencatatkan apresiasi yang lebih dalam melalui kurs Jisdor. Pada Jumat (14/8), Jisdor berada di level Rp 17.836 per dolar AS, atau menguat 0,26% dibandingkan hari sebelumnya. Data ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda setelah beberapa pekan terakhir berada di zona fluktuatif.

Dua Sentimen Eksternal Menopang Penguatan Rupiah

Pelemahan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menurun turut mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga arus modal asing mulai melirik pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Kondisi ini memberikan ruang bagi rupiah untuk bernapas setelah sempat tertekan oleh sentimen risiko global. Pelaku pasar tampak mulai mengkalkulasi ulang posisi mereka menjelang rilis sejumlah data penting dari AS.

Agenda Pekan Ini: Risalah FOMC dan Sinyal Kebijakan BI

Perhatian investor pekan ini tertuju pada dua agenda utama. Pertama, publikasi risalah rapat FOMC yang dijadwalkan rilis pekan ini. Risalah tersebut akan memberi petunjuk mengenai sikap bank sentral AS terhadap inflasi dan arah suku bunga ke depan, yang menjadi penentu pergerakan dolar secara global.

Kedua, pasar menanti arah kebijakan Bank Indonesia. Keputusan suku bunga acuan dan sikap otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar akan menjadi katalis utama bagi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan resmi dari pejabat BI akan dicermati pelaku pasar untuk mengukur seberapa jauh intervensi dilakukan.

Kombinasi hasil risalah FOMC yang cenderung dovish dan sikap BI yang konsisten menjaga stabilitas dapat membuka peluang penguatan rupiah lebih lanjut. Namun, potensi tersebut masih dibayangi ketidakpastian perlambatan ekonomi global yang bisa memicu aksi lari ke aset aman sewaktu-waktu.

Investasi mengandung risiko.

Sumber: insight.kontan.co.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua