Konsumsi Listrik SPKLU Tembus 62,4 Juta kWh, Penjualan Mobil Listrik dan Hybrid Naik 40 Persen
ACEH — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pertumbuhan penjualan otomotif ini dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Sabtu (15/8/2026). Menurutnya, konsumsi listrik SPKLU yang mencapai 62,4 juta kWh hingga Juni 2026 sudah melampaui pencapaian sepanjang 2025 yang tercatat 48,5 juta kWh.
Angka tersebut sejalan dengan penjualan listrik secara keseluruhan yang tumbuh 10,8 persen. Konsumsi listrik rumah tangga naik 12,3 persen, sektor bisnis tumbuh 10 persen, dan industri meningkat 6,5 persen. "Kenaikan ekonomi juga bisa dilihat dari kegiatan yang mengonsumsi listrik. Itu juga naik 10,8 persen dan penjualan semen 13,5 persen year on year," ujar Airlangga.
SPKLU Tambah 200 Titik Baru, Infrastruktur Dikebut
Pertumbuhan kendaraan listrik diiringi percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya. PT Niscala Energi Indonesia (iGreen+) bersama PT Pos Indonesia, PLN, dan mitra ekosistem menargetkan perluasan jaringan hingga 200 titik SPKLU. Target ini disampaikan Lawrence, CEO iGreen+, saat meresmikan fasilitas pengisian ultra cepat di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Jakarta, pada 8 Agustus 2026.
Di lokasi tersebut tersedia enam unit Ultra Fast Charger DC berkapasitas 120 kW dengan konektor CCS2. PT Pos Indonesia menyediakan lahan, sementara pasokan listrik didukung PLN. "Komitmen kami berfokus pada kebutuhan pelanggan, dengan menghadirkan pengisian daya yang andal dan mudah dijangkau," kata Lawrence.
Saat ini iGreen+ mengoperasikan 19 stasiun dengan 132 perangkat charging gun yang tersebar di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Bali. Lima stasiun baru juga disiapkan beroperasi dalam waktu dekat. Pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU periode 2025-2030 sebagai acuan pengembangan infrastruktur.
Konsumen Mulai Tentukan Teknologi Sendiri
Pertumbuhan kendaraan elektrifikasi menunjukkan pergeseran perilaku konsumen. Pengamat Kebijakan Ekonomi Perbanas, Joshua Pardede, menilai masyarakat sudah menemukan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka—baik Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), maupun Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Menurut Joshua, pilihan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh pola penggunaan kendaraan sehari-hari, bukan sekadar anggapan bahwa satu teknologi lebih unggul dari yang lain. Hal ini terungkap dalam Dialog Otomotif Nasional bertajuk "The Right Fit for Indonesia" yang digelar Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di sela GIIAS 2026, 5 Agustus lalu.
Tren ini menandakan pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia semakin matang. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dan cenderung memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka, sementara pemerintah terus mendorong elektrifikasi sebagai bagian dari target transisi energi nasional.