70% Karyawan DSLNG Kini Putra Daerah, Kilang LNG di Banggai Siapkan Regenerasi Jelang Pensiun Senior
ACEH — Luwuk — Kehadiran Kilang LNG Donggi Senoro (DSLNG) di Sulawesi Tengah hampir 11 tahun terakhir tidak hanya mengubah lanskap industri gas nasional, tetapi juga membuka jalan karier bagi masyarakat lokal. Dari total karyawan yang ada saat ini, sekitar 70% di antaranya merupakan tenaga kerja asal daerah, sebagian besar dari Kabupaten Banggai.
“Kami sekarang sudah sekitar 70% dari lokal, sekitar Banggai,” ujar Plant Deputy General Manager DSLNG, Sugianto Darsani, saat ditemui di kawasan kilang, Senin (17/8).
Dari Keterbatasan SDM Menjadi Andalan Operasional
Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa awal pembangunan proyek. Saat itu, SDM di Sulawesi yang berpengalaman di industri LNG masih sangat terbatas, sehingga perusahaan harus mendatangkan tenaga ahli dari luar daerah hingga luar negeri sambil membangun kompetensi pekerja lokal secara paralel.
Para tenaga lokal yang direkrut kemudian dikirim mengikuti pelatihan di lembaga pengembangan kompetensi migas, seperti PPSDM Migas Cepu, PT Petrotekno, dan PT Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Dari proses tersebut, DSLNG perlahan memiliki operator lokal yang mampu menjalankan operasional kilang secara mandiri.
Bahkan, sejumlah alumni tenaga kerja DSLNG kini berkarier di perusahaan migas kelas kakap dunia di luar negeri. Hal ini menjadi bukti bahwa pekerja asal Sulawesi mampu bersaing di industri energi global, meski di sisi lain perusahaan harus kembali menyiapkan pengganti.
“Prioritas kami kalau memang bisa memang dari lokal, kita didik,” tegas Sugianto.
Regenerasi Berjenjang: 19 Operator Pertama Hingga Program Apprenticeship
Upaya regenerasi operator sebenarnya sudah dimulai sejak 2015. Pada tahun tersebut, DSLNG menerima 19 orang dari berbagai daerah di Sulawesi—Luwuk, Palu, Manado, Makassar, Palopo, hingga Toraja—untuk dididik menjadi operator kilang. Program pendidikan berlangsung sekitar 18–24 bulan, mencakup pembelajaran kelas, presentasi, tes tertulis, hingga demonstrasi langsung di lapangan.
“Kami didik mereka untuk menjadikan mereka operator yang qualified,” kata Operations Trainer DSLNG, Bath Sius Paul Ruitan.
Dari 19 peserta awal tersebut, hanya lima orang yang kini masih bertahan di bagian operasi DSLNG. Sebagian lainnya memilih menempuh karier di luar negeri.
Regenerasi kemudian dilanjutkan melalui Operator Program Apprenticeship (OPA) yang berjalan berkelanjutan. Pada OPA Batch 1 tahun 2021, enam orang direkrut dan lima di antaranya berhasil menjadi operator. Mereka berasal dari Luwuk, Mendono, Moilong, dan Toili. Setahun berikutnya, OPA Batch 2 kembali merekrut enam peserta dari Kintom, Batui, Kota Luwuk, dan Toili. Pada 2023, OPA Batch 3 menyusul dengan enam orang yang kini seluruhnya telah menjadi operator.
Proyek Strategis dengan Kapasitas 2,1 Juta Ton per Tahun
DSLNG merupakan proyek LNG pertama di Indonesia yang menggunakan model pengembangan bisnis hulu dan hilir secara terpisah. Sebagai perusahaan hilir, DSLNG membeli dan mengolah gas alam menjadi LNG untuk kemudian dipasarkan kepada pembeli.
Kilang ini berlokasi sekitar 45 kilometer tenggara Luwuk, dengan satu train pencairan LNG, tangki penyimpanan, dan fasilitas pemuatan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 2,1 juta ton LNG per tahun, mampu mengirim sekitar 41 kargo LNG setiap tahunnya. Investasi pembangunannya mencapai US$2,8 miliar dengan pasokan gas sekitar 335 MMSCFD dari Blok Senoro dan Blok Matindok.
Kepemilikan DSLNG terdiri dari PT Pertamina Hulu Energi, PT Medco LNG Indonesia, dan Sulawesi LNG Development Ltd. Kilang mulai beroperasi pada 2015, dengan pengiriman kargo perdana pada 2 Agustus 2015 menuju Terminal LNG Arun, Aceh.
Program regenerasi yang berjalan konsisten ini menjadi kunci keberlanjutan operasional kilang di tengah ancaman kesenjangan generasi. Dengan terus mendidik putra-putri daerah, DSLNG tidak hanya menjaga keandalan operasi, tetapi juga memastikan manfaat industri migas benar-benar dirasakan masyarakat Sulawesi Tengah dalam jangka panjang.