Bukan karena Tambang, UI: Banjir Bandang Garoga Dipicu Hujan Ekstrem 300 Tahun Akibat Siklon Senyar
ACEH — Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, mengungkapkan bahwa pemicu utama bencana adalah Siklon Senyar yang memicu curah hujan luar biasa di wilayah hulu DAS Garoga. Kondisi ini diperparah dengan munculnya 1.572 titik longsor yang terdeteksi melalui pencitraan satelit, di mana 81 persen di antaranya berada di kawasan hutan dengan kemiringan lereng curam hingga sangat curam.
“Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang,” jelas Eko dalam paparannya, Minggu (16/8).
Isu Tambang Aek Pahu Terbukti Tidak Terkait
Eko menegaskan bahwa hasil pemodelan hidrologi dan hidrodinamik membuktikan tidak ada hubungan antara aktivitas pertambangan di Aek Pahu dengan banjir yang terjadi. Secara geografis, aliran air dari wilayah tambang tersebut menuju hilir Sungai Garoga yang posisinya sudah mendekati laut.
“Aek Pahu posisinya di sebelah selatan. Aliran air dari Aek Pahu itu dari wilayah pertambangan mengalir juga ke bagian hilir Sungai Garoga, sudah mendekati laut titiknya. Jadi tidak mengalir di tengah yang banjir ini, di luar sistem,” ungkapnya.
Perubahan Lahan Sawit Hanya 10 Persen, Tak Signifikan
Meskipun data menunjukkan adanya alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di DAS Garoga sepanjang 1990–2026, porsinya hanya sekitar 10 persen dari total luas DAS yang mencapai 445 kilometer persegi. Menurut Eko, perubahan tutupan lahan tersebut justru mayoritas berada di bagian bawah DAS.
“Sebagian besar perubahan lahan sawit memang sebagian besar di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir,” terangnya.
Faktor utama yang membuat bencana menjadi parah adalah material longsor dalam jumlah masif yang terbawa arus dan membendung aliran sungai. Ketika bendung alam tersebut jebol, terjadilah banjir bandang yang menghantam permukiman warga.
Rekomendasi Tata Ruang untuk Keselamatan Warga
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan disebut menyambut baik hasil riset ini. I-SER UI mendorong adanya pembenahan tata ruang di Garoga, terutama untuk menetapkan kawasan permukiman yang aman serta titik-titik evakuasi jika bencana serupa terjadi kembali.
“Kami beri batas aman mana yang boleh ditinggali, mana yang bisa jadi tempat evakuasi. Tata ruang perlu kesepakatan Pemda dengan masyarakat,” kata Eko.
Langkah ini dinilai krusial mengingat intensitas hujan ekstrem diprediksi semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Dengan penetapan zona aman yang jelas, risiko korban jiwa pada kejadian serupa di masa depan bisa ditekan seminimal mungkin.